1 month ago, Posted by: araial02

Babi Diharamkan oleh Agama Abrahamik Menurut Marvin Harris

Apabila mau mangulas Mengenai babi di Indonesia wajib dicoba dengan hati- hati, bila tidak mau menyinggung sebagian besar warga Indonesia yang beragama Islam yang mengharamkan fauna tersebut( pula sebagian kelompok Kristiani serta Yahudi). Terdapat banyak pendekatan yang dicoba oleh ilmuwan buat menarangkan kenapa babi diharamkan oleh agama Abrahamik. Salah satunya merupakan Marvin Harris, seseorang antropolog yang mempopulerkan materialisme kultural. Dia jelas termotivasi oleh materialisme Karl Marx.

Materialisme merupakan suatu mengerti yang mengusung semangat kalau yang diucap kebenaran harusnya didasarkan pada barang nyata yang bisa dialami oleh indra manusia. Materialisme tidak mengamini terdapatnya hal- hal di luar modul yang tidak bisa dijamah oleh manusia. Materialisme budaya pula tidak jauh dari perihal tersebut. Budaya manusia tercipta bukan oleh hal- hal yang mistis, melainkan pengaruh dari modul yang terdapat di sekitarnya. Berangkat dari premis dasar kalau modul pengaruhi pemahaman manusia.

Dengan pemikiran semacam itu, dia berupaya buat menanggapi misteri kebudayaan dalam bukunya yang bertajuk Cows, Pigs, Wars, and Witches: The Riddle of Culture. Serta perihal yang butuh digarisi, dia berupaya buat mengenali faktor- faktor material yang relevan dengan kebudayaan, tercantum“ kenapa babi diharamkan oleh agama- agama Abrahamik?”

Kenapa Tuhan yang dimuliakan semacam Allah serta Yahwe mengutuk mahluk yang tidak beresiko itu selaku fauna yang najis, yang dagingnya tidak boleh dimakan?

Saat sebelum Reinasans, uraian yang terkenal merupakan kalau babi memanglah fauna yang kotor–ia berkubang dengan air kencingnya sendiri serta memakan tinja. Bila memakai standar kebersihan, ini hendak memunculkan ketidakkonsistenan. Sebab sapi, anjing serta ayam dapat melaksanakan perihal yang sama semacam babi. Inkonsistensi ini disadari oleh para rabbi di dini Reinasans. Moses Maimonides, dokter istana Salahudin menarangkan mengapa orang Yahudi serta Muslim tidak makan babi. Dia mengatakan kalau daging babi mempunyai akibat kurang baik serta mengganggu untuk badan.

Namun uraian dari Maimonides mempunyai kontradiksi kedokteran serta episdemiologis. Babi sering diidentikkan dengan cacing pita selaku sumber penyakit, tetapi daging sapi yang dimasak kurang matang pula bisa menimbulkan cacing pita. Berbeda dengan fauna dalam negeri lain( sapi, domba, kambing, kuda, keledai) babi tidak menyebarkan penyakit antraks. Penyakit yang sempat jadi epidemi di kawasan Eropa serta Asia. Dengan demikian, uraian Maimonides gugur. Ahli lain berkomentar kalau fauna yang ditabukan sempat jadi simbol totem klan- klan suku. Namun umumnya totem bukan ialah fauna yang dihargai sebab jadi sumber pangan. Umumnya mereka memakai burung- burung yang relatif tidak bermanfaat ataupun serangga buat dijadikan nama totem.

Pemikiran Geografis, Ekosistem, serta Ekonomis

Buat menguasai ini, kita wajib menghubungkan proses- proses hakiki gimana fauna, tumbuhan serta manusia hidup berdampingan. Bagi Harris, Tuhan mengutuk babi sebab fauna itu merupakan ancaman untuk ekosistem natural timur tengah. Kita wajib memandang kalau orang Ibrani prahistoris secara budaya menyesuaikan diri dengan kehidupan di daerah yang gersang. Orang Ibrani ialah penggembala yang nomaden, menetap di wilayah sungai. Menggembala ialah aktivitas ekonomi yang berarti.

Singkatnya, babi tidak efisien buat digembalakan. Di pedesaan, babi ialah hama. Walaupun omnivora, babi tidak dapat hidup cuma dengan rumput. Dia wajib makan kacang- kacangan, buah- buahan serta umbi- umbian. Dia hendak jadi pesaing santapan manusia. Tidak hanya itu, babi pula tidak bisa dimanfaatkan susunya semacam hewan dalam negeri lain. Tidak hanya itu, babi pula susah menyesuaikan diri di hawa panas serta kering. Babi mempunyai sistem yang tidak efektif dalam mengendalikan temperatur badannya. Selaku kompensasi, babi wajib melembabkan kulitnya dengan cairan eksternal. Dia hendak melumuri kulitnya dengan air berkemih serta tahinya sendiri bila tidak terdapat cairan lain. Terus menjadi besar suhunya, terus menjadi“ kotor” fauna tersebut.

Warga petani serta peternak Timur Tengah menggembalakan fauna dalam negeri buat banyak perihal, selaku sumber susu, keju, kulit, kotoran, serat serta pembajak lahan. Kambing, domba serta sapi dapat sediakan perihal tersebut. Tidak sering sekali fauna yang digembalakan cuma buat diambil dagingnya. Nah, dari sana daging babi ialah benda sangat jarang yang elegan. Banyak petani serta pengembala yang mau memelihara babi sebab aspek kelangkaan. Tetapi Timur Tengah ialah tempat yang salah buat membudidayakan babi. Serta apabila dibiarkan, hingga hendak mengganggu ekosistem alamiah.

Mengembangbiakkan babi dalam jumlah besar di Timur Tengah merupakan sikap maladaptif. Lebih baik melarang mengkonsumsi daging babi sama sekali, serta berkonsentrasi pada ternak kambing, domba serta sapi. Babi bisa jadi lezat, tetapi buat mengurusnya di Timur Tengah hendak menyita banyak sumber energi. Hingga dari itu, Yahwe berfirman kalau babi itu najis, tidak cuma selaku santapan, tetapi pula haram buat dijamah. Allah pula mengulangi pesan yang sama lewat Muhammad.


Post Views: 51


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved