1 month ago, Posted by: araial02

Merebaknya Isu Babi Ngepet, Tuyul, dan Pesugihan, Begini Kata Pakar Antropolog

Warga Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat dihebohkan dengan penemuan babi hutan yang dikira babi jadi- jadian ataupun babi ngepet pada Selasa, 27 April 2021.

Penemuan yang diprediksi babi ngepet seketika menurun dikala tertangkap, seperti itu yang membuat masyarakat Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat mengaitkan kepada hal- hal yang mistis.

Hingga terdapat masyarakat yang malah menuduh salah satu masyarakat yang lain jadi pelakon babi jadi- jadian ataupun babi ngepet.

Tuduhan tersebut divideokan masyarakat yang lain sampai viral di jagat maya, serta berakhir perkataan permohonan maaf dari bunda yang menuduh tersebut.

Sehabis viral, nyatanya fenomena babi ngepet

yang tadinya dipercaya warga Depok tersebut ditentukan cuma rekayasa dari Adam Ibrahim( AI).

Perihal ini dikenal dari hasil pertumbuhan penindakan yang dicoba Polres Metro Depok atas masalah data penangkapan seekor babi yang diviralkan selaku babi ngepet.

Kapolres Metro Depok Kombes Imran Edwin Siregar membenarkan fenomena babi ngepet di Depok tersebut cuma rekayasa dari terdakwa AI, salah satu tokoh di Depok.

Terlepas motif terdakwa dari upaya merekayasa babi ngepet yang pernah menghebohkan, serta dipercayai oleh sebagian warga.

Antropolog dari Universitas Negara Malang, Dokter Abdul Latif Bustami menarangkan ihwal mengapa warga dikala ini masih yakin fenomena babi ngepet, tuyul, pesugihan serta hal- hal yang mistis.

Bagi Dokter Abdul Latif Bustami fenomena timbulnya babi jadi- jadian, babi ngepet ataupun pesugihan

yang ramai di Depok, Jawa Barat ini sesungguhnya tidaklah perihal yang baru.

Tadinya, fenomena seragam sempat terjalin di salah satu wilayah.

Tetapi bukan babi ngepet melainkan tuyul.

Dokter Abdul Latif Bustami memandang fenomena babi ngepet di Depok murni klenik ataupun dengan kata lain mistis ataupun bukan bagian kebatinan ataupun bagian dari keyakinan warga sebab beda konteks.

Babi jadi- jadian, babi ngepet, tuyul serta sejenisnya ini murni klenik ataupun mistis.

" Bukan aliran kebatinan, keyakinan warga sebab itu berbeda,” tutur ia dikala dihubungi PikiranRakyat- Tasikmalaya. com, Kamis 29 April 2021.

Suatu yang klenik ataupun mistis ini, lanjutnya, memanglah meyakini suatu ataupun memilah jalur yang irasional dalam penuhi kebutuhan ataupun dalam perihal berupaya.

Dalam konteks ini, berupaya mau kilat kaya, mencari duit dengan jalur babi ngepet, pesugihan, tuyul serta sejenisnya.

Perihal klenik di Depok, babi ngepet ini timbul tidak berdiri sendiri. Fenomena ini timbul sebab kompensasi warga dari tekanan ekonomi, sosial serta politik, sehingga lari ke perihal yang mistis semacam ini.

Dalam teori kebudayaan diucap pula, kompensasi warga dikala tidak dapat menuntaskan ataupun tidak menciptakan soluasi atas permasalahan hidupnya sehingga bergeser ke perihal yang mistis, perihal yang irasional.

" Aku juga memandang fenomena babi ngepet, tuyul ini selaku karakteristik jika warga kita masih hidup di sesi magisme," ucap ia.

Anehnya, fenomena ini timbul di Depok, Jawa Barat yang diketahui wilayahnya banyak kampus, banyak orang yang berpendidikan besar, banyak orang pintar dengan tingkatan literasi besar.

Tetapi, di pinggiran Depok dengan tingkatan pembelajaran yang masih belum mencukupi timbul fenomena mistis, babi ngepet ataupun pesugihan.

" Fenomena( babi ngepet) di Depok ini bagi aku menarik, terjalin di pinggiran Depok," paparnya.

Tidak hanya itu, Dokter Abdul Latif Bustami juga berpandangan, fenomena babi ngepet di Depok ini jika dilihat dari aspek politik dapat saja selaku upaya pengalihan warga terhadap isu- isu besar yang lain.

Bercemin dari banyaknya timbul fenomena seragam akhir- akhir ini, terdapat babi ngepet di Depok, sunda empire lebih dahulu serta deretan kejadian seragam yang lain.

“ Serta aku juga memandang fenomena ini selaku pemisahan kelompok yang mereproduksi narasi- narasi negatif. Semacam babi ngepet yang tujuannya memunculkan konflik antar 2 kelompok,”

kata ia.

Perihal senada juga di informasikan oleh Kepala Pusat Riset Desentralisasi serta Pembangunan Partisipasif FISIP Universitas Padjajaran( Unpad), Dokter Ahmad Buchari.

Baginya, fenomena babi ngepet di Depok, Jawa Barat selaku wujud frustasi sosial. Frustasi sosial ini timbul sebab kejenuhan serta kebuntuan warga terhadap orientasi ke depan ataupun hari besok ditengah keadaan himpitan serta ketidakpastian ekonomi.

Banyak warga yang tengah kesulitan akibat pandemi Covid- 19. Sehingga, hal- hal yang mistis semacam inilah timbul selaku kompensasi warga terhadap frustasi sosial.

" Fenomana babi ngepet, pesugihan ini cumalah kompensasi warga dari tekanan kebutuhan ekonomi, tekanan sosial politik," tutur Dokter Ahmad Buchari.

" Warga telah tidak yakin yang realistis serta malah lari ke perihal yang mistis, babi ngepet, tuyul serta sebagainya," imbuhnya.

Tidak hanya itu, dia juga memandang fenomena babi ngepet di Depok, Jawa Barat selaku kontstruksi sosial budaya saintek.

" Artinya, gelombang ketiga masa informatika dimana digitalisasi multimedia membuat sikap warga sedikit beralih ke keyakinan supranatural serta irasional. Perihal ini sebagaimana dikatakan Naisbett terpaut gelombang ketiga masa informatika," terangnya.

" Aspek dominannya merupakan style hidup modern liberal dalam uraian keagamaan yang longgar alias kurang," pungkas Dokter Ahmad Buchari.


Post Views: 57


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved