Meningkatkan Kesadaran Digital Santri Melalui Edukasi Media Sosial Bijak di Era Modern
Media sosial saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja, termasuk mereka yang tinggal di lingkungan pesantren. Sayangnya, keberadaan media sosial juga membawa tantangan besar, karena anak-anak dapat dengan mudah mengakses berbagai konten yang tidak selalu sesuai dengan usia dan perkembangan mereka. Konten negatif seperti komentar kasar, ujaran kebencian, praktik perjudian daring, dan penyebaran hoaks semakin marak dan sulit dikendalikan. Fenomena ini tidak hanya menjadi perhatian orang tua dan pendidik, tetapi juga menunjukkan perlunya edukasi yang tepat agar anak-anak mampu menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Dalam situasi ini, mahasiswa dari komunitas Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Desa Kesilir berinisiatif untuk melakukan kegiatan edukasi yang bertujuan meningkatkan literasi digital di kalangan santri pondok pesantren Darul Mukhtar. Mereka bekerja sama secara aktif untuk menyampaikan pentingnya pemahaman mengenai penggunaan media sosial yang aman dan sehat, terutama di tengah maraknya pengaruh digitalisasi yang semakin pesat. Meskipun para santri tinggal di lingkungan pondok yang biasanya membatasi penggunaan ponsel, sebagian dari mereka tetap membawa perangkat tersebut untuk keperluan belajar dan komunikasi. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat relevan untuk membekali mereka agar mampu menyikapi dunia maya dengan bijak dan menghindari bahaya yang mengintai.
Kegiatan berlangsung pada Selasa sore, tepatnya tanggal 20 Januari 2026, setelah proses belajar di pesantren selesai. Dimulai dengan sesi berbagi pengalaman dari anggota BBK 7 Kesilir yang juga merupakan alumni pondok pesantren, acara ini bertujuan memberi gambaran nyata tentang tantangan yang dihadapi santri setelah lulus dari pesantren, terutama dalam menghadapi era digitalisasi yang penuh dinamika. Mereka berbagi pengalaman mengenai pentingnya menjaga etika dan norma saat berinteraksi di media sosial, serta mengingatkan bahwa dunia maya bukanlah tempat yang bebas dari konsekuensi.
Selanjutnya, pemateri Adenia Dearesta dari Fakultas Hukum menyampaikan materi penting tentang batas aman dalam bermedia sosial serta risiko tersembunyi yang perlu diwaspadai. Ia menekankan bahwa penggunaan media sosial harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, karena kesalahan dalam berkomentar atau berbagi informasi dapat membawa sanksi sosial maupun sanksi hukum. Sekitar 60 santri yang tidak mengikuti pelajaran formal hadir dalam kegiatan ini, menunjukkan antusiasme mereka terhadap pentingnya literasi digital. Pengasuh pondok, Luqya Miftahurrahmah, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif ini dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat pemahaman santri tentang bahaya dan manfaat teknologi.
Ia menambahkan bahwa meski mereka tinggal di lingkungan pesantren dan jarang menggunakan ponsel secara aktif, pengetahuan tentang bagaimana bersikap di media sosial harus diberikan sejak dini agar mereka mampu menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada pemateri, serta berbagai pengalaman pribadi yang mereka bagikan selama sesi diskusi berlangsung. Adenia kembali mengingatkan bahwa risiko yang mengintai di media sosial tidak hanya terkait norma sosial, tetapi juga berhubungan dengan aspek hukum.
Ia menegaskan bahwa pengguna harus berhati-hati dalam mengetik komentar, tidak mudah terpancing oleh pesan dari orang asing, dan tidak mudah tergiring opini yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya nyata dalam mendukung pencapaian salah satu poin dari Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu menjamin pendidikan yang inklusif dan merata. Melalui sosialisasi literasi digital ini, mahasiswa BBK 7 Kesilir berharap bisa memperluas akses pengetahuan di luar kurikulum formal pesantren agar santri memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman digital saat ini.
Dengan membekali mereka pemahaman yang tepat tentang penggunaan media sosial, diharapkan generasi muda mampu menjadi pribadi yang kritis, bijak, dan bertanggung jawab saat berinteraksi di ruang publik digital. Program ini juga diharapkan mampu membentuk karakter santri yang mampu menghadapi tantangan zaman dan menjadi agen perubahan positif di masyarakat.
Sumber: https://unair.ac.id/bbk-7-kesilir-ajak-santri-darul-mukhtar-bijak-bermedia-sosial/