Inovasi Ekonomi Hijau Berbasis Komunitas: Mendorong Pendidikan dan Pelestarian Lingkungan melalui Pengelolaan Karbon

Dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin meningkat, muncul sebuah gagasan inovatif yang mengintegrasikan ekonomi hijau dan partisipasi masyarakat. Ide ini dipresentasikan dalam Kuliah Tamu Antropologi Ekologi yang diselenggarakan oleh Departemen Antropologi dan Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. MaBuRag) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR).
Dengan tema inspiratif “Memanen Karbon, Menuai Sarjana: Rekayasa Ekosistem dalam Mewujudkan Ekonomi Sirkular dan Inovasi Sosial,” kegiatan ini menyoroti bagaimana dinamika pelestarian lingkungan dan proses hilirisasi ekonomi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Menurut Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Antropologi Ekologi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia dan alam, perlu merefleksikan inovasi karbon yang tidak hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga aspek sosial dan pembangunan manusia.
Prof. Adib menambahkan bahwa inovasi sosial melalui pengelolaan karbon dapat berdampak positif pada pengembangan sumber daya manusia, termasuk pemberian beasiswa pendidikan. Kegiatan ini diadakan di Ruang Adi Sukadana FISIP UNAIR pada 25 Mei 2026 dan dihadiri oleh berbagai narasumber dan stakeholder yang mendukung pengembangan ekonomi hijau berbasis komunitas.
Dalam acara ini, H. Mahrus Solikin, penerima Penghargaan Kalpataru 2009 dan Ketua Kelompok Tani Hutan Rukun Maju Sejahtera di Pasuruan, menjadi salah satu narasumber utama. Beliau memaparkan bagaimana kebunnya seluas satu setengah hektar mampu mendukung pendidikan 100 anak, bahkan berkembang hingga 300 anak, melalui pengelolaan hasil kebun dan perdagangan karbon. Sejak tahun 1981, beliau mulai menanam pohon di lahan miliknya dan mengajak masyarakat sekitar untuk melakukan hal serupa, yang akhirnya mendapatkan pengakuan nasional dan internasional.
Mahrus Solikin juga berbagi pengalaman tentang kerja sama dengan Jepang dalam skema perdagangan karbon internasional, yang membuka peluang ekonomi sekaligus membiayai pendidikan masyarakat sekitar hutan. Saat ini, beliau telah membudidayakan berbagai tanaman di lahan seluas enam hektar dan bekerja sama dengan berbagai lembaga melalui program PUSPA, yang membantu lebih dari seratus santri mendapatkan biaya pendidikan.
Selain itu, beliau mengembangkan gerakan penghijauan yang berfokus pada konservasi air dan udara bersama komunitas lokal. Dalam diskusi tentang pengembangan proyek karbon di perguruan tinggi, beliau mengusulkan agar Universitas Airlangga memanfaatkan lahan di Pasuruan sebagai pilot project pengelolaan karbon mandiri, yang dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain di Jawa Timur.
Pembahasan tentang karbon juga meliputi proses fotosintesis, yang melibatkan cahaya matahari, air, CO₂, dan klorofil. Guntur Bisowarno menjelaskan bahwa tanaman berklorofil—mulai dari rumput hingga pohon besar—berperan penting dalam menyerap CO₂ dan mengubahnya menjadi biomassa dan oksigen. Strategi penanaman jangka panjang yang berkelanjutan, seperti tumpang sari, juga diajarkan untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Narasumber mengajak peserta untuk mulai menanam di lahan yang tersedia dan memanfaatkan potensi besar wilayah tropis Indonesia dalam menjaga udara dan air. Program pengelolaan karbon berbasis masyarakat ini sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pemberian beasiswa, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui perdagangan karbon, dan SDG 15 tentang pelestarian ekosistem daratan melalui penghijauan dan konservasi hutan. Keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam program ini juga mencerminkan kolaborasi yang diperlukan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan secara menyeluruh.
Sumber artikel : https://unair.ac.id/memanen-karbon-menuai-sarjana-dari-lereng-bromo-mengubah-udara-menjadi-beasiswa-anak-bangsa/